IslamicTunesNews | HUBUNGAN NUSANTARA DENGAN MAKKAH DAN MADINAH

Hubungan antara kerajaan Nusantara dengan Timur Tengah tidak terbatas pada Dinasti UstmaniAceh misalnya juga menjalin hubungan dengan pusat keagamaan Islam, yakniMakkah dan Madinah. Meski hubungan itu lebih bersifat keagamaan ketimbang politik, penting dicatat bahwa hubungan penguasa Aceh dengan penguasa Haramayn mempunyai implikasi politik yang penting bagi AcehPires dalam riwayatnya tentang kerajaaan Arudengan seragan Aceh. Mengutip pula sepucuk surat Sultan Johor kepada Sultan Aceh yang menyatakan bahwa penguasa aceh mendapat kehormatan besar dengan menerima “stempel mas Bayt Al-HaramMakkah’”. “stempel mas”, itu kelihatannya diberikan dalam surat yang menyatakan Sultan Aceh yang disebut Pires, Alaradim (‘Ala’ Al-Din)
Aceh memang pengecualian istimewa, sejauh menyangkut hubungan dengan Timur Tengah. Tidak ada negara lain di Nusantara yang mempunyai hubungan-hubungan politik dan diplomatik yang begitu intens dengan dinasti Ustsmani. Tetapi penting dicatat, banyak negara muslim di Nusantara sejak abad ke 17 berada dalam hubungan yang konstan denganHijaz penguasa Banten di Jawa Barat, ‘Abd Al-Qadir mendapat gelar sultan dari SyarifMakkah sebagai hasil missi khusus yang dikirimkannya ke Tanah Suci. Sultan Banten ini juga menerima “bendera dan pakaian suci dan apa yang dipercayai sebagai bekas jejak kaki nabi” dari penguasa Haramayn. Semua pemberian Syarif Makkah ini diarak ke sekeliling Bantenpada peringatan mawlid nabi. Selanjutnya, pertukaran surat menyurat dan hadiah diantara istana Banten dengan penguasa Haramayn terus berlangsung sampai menjelang akhir abad ke 17
Mataram, sebuah kerajaan besar Muslim lainnya di janatung pulau Jawa, juga merasakan kebutuhan menjalin hubungan erat dengan Syarif Makkah, dan sealigus untuk mendapatkan gelar sultan dari penguasa Tanah Suci ini. Untuk tujuan akhir penguasa Mataram, pangeran rangsang, mengirim delegasi ke Makkah. Duta Mataram itu menumpang kapal Ingris ke surat, India dan dari sana dengan kapal muslim menju Jeddah. Seperti bisa diduga, Syarif Makkah memenuhi keinginan pangeran Rangsang dan memberikan gelar Sultan kepadanya. Pangeran Rangsang sejak saat itu lebih dikenal sebagai Sultan Agung, salah seorang penguasa terbesar Mataram. Sultan Agung, yang sangat bersyukur atas anugerah yang dilimpahkan penguasa Haramayn kepadanya, pada tahun berikutnya mengirim sekelompok orang jawa membawa hadiah kepada Syarif Makkah dan sekaligus menunaikan ibadah haji atas namanya. Tetapi kapal inggris yang membawa mereka dihadang dan diserang kekuatan angkatan laut Belanda dilepas pantai Batavia satu-satunya yang selamat dikirim kembali olehBelanda ke Mataram. Ia dipesankan menyampaikan persyaratan-persyaratan yang ditentukan Belanda dibenarkannya pelayaran jamaah haji Jawa melalui lepas pantai Batavia. Salah satu persyaratan pokok dalam hal ini adalah bahwa Mataram harus pertama-tama membebaskan tawanan-tawanan Belanda yang ditahan Mataram. Sultan Agung yang sangat marah terhadap tindakan sepihak Belanda memerintahkan agar Antonio Paulo, kepala tawanan Belanda dilemparkan ke mulut buaya.
Disamping penguasa-penguasa Aceh, Banten dan Mataram, beberapa muslim Nusantara lainnya juga diketahui pernah menerima surat-surat dari penguasa Haramayn. MenurutDaghregister, sultan Palembang menerima beberapa pucuk surat dari Makkah, yang dikirimkan dengan kapal-kapal Aceh. Tavernier, pengembara Prancis yang mengunjungiMakasar mengatakan bahwa ketika raja Makassar sedang mempertimbangkan untuk masukislam, ia juga didekati oleh seorang Portugis agar masuk Kristen. Penguasa Makassar ini dlaporkan bersedia meninggalkan kepercayaannya kepada berhala jika “orang –orangMohammedan” dapat mengirimkan kepadanya dua atau tiga “moullah” atau “doktor”paling cakap dari Makkah, atau orang-orang Kristen dapat mengirimkan pendeta Jesuit paling ahli, sehingga ia diberi pengajaran tentang kedua agaama ini. Selanjutya Tavernier menulis “ dalam waktu delapan bulan, mereka (kaum Muslim) mengirim dari Makkah dua ‘moullah’ ahli, sehingga ketika raja Makassar melihat bahwa orang-orang Jesuit tidak ada yang datang kepadanya, maka ia segera memeluk islam”.
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan, 1995),

Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *