IslamicTunesNews | MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT


Nikmat
yang dianugerahkan Allah kepada manusia, merupakan pemberian yang terus
menerus, dengan bermacam-macam bentuk lahir dan batin. Hanya manusia sajalah
yang kurang pandai memelihara nikmat, sehingga ia merasa seolah-olah belum
diberikan sesuatupun oleh Allah. Disebabkan ia tidak bersyukur kepada Allah dan
tidak merasakan bahwa Allah telah memberi kepadanya sangat banyak dari
permintannya.
Nikmat
yang sangat besar bagi manusia adalah nikmat iman. Termasuk orang yang menyia-nyiakan
nikmat Allah adalah orang yang menggunakan nikmat Allah tidak pada tempatnya,
atau menggunakan nikmat Allah untuk kemaksiatan. Termasuk sifat yang angkuh
terhadap Allah Swt jika ia merasa bahwa semua yang ada padanya adalah karena
kepandaian dan keistimewaan diri manusia itu sendiri. Perasaan seperti ini
memudarkan Tauhid dari dalam jiwanya. Oleh karena itu, kita sebagai makhluk
Allah yang senantiasa mengharapkan keridhoan-Nya diharapkan diberi kesadaran
dalam mensyukuri nikmat yang sungguh besar yang telah Allah berikan kepada
kita.Syukur berarti Memuji, berterima kasih dan merasa berhutang budi kepada
Allah atas karunia-Nya, bahagia atas karunia tersebut dan mencintai-Nya dengan
melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Allah telah memberikan apa yang telah
diberikan-Nya kepada kita, seperti halnya semua alat indra kita serta nikmat
kesehatan yang semua itu tidak bisa diukur dengan material kita.
Akan
tetapi bagaimana kita harus menyikapi pemberian yang Allah berikan kepada kita?
Bahwasanya Allah menganjurkan kepada makhluknya untuk mensyukuri nikmat yang
diberikan, yaitu dengan satu hal yang mungkin kadang manusia sendiri lupa apa
yang menjadi kewajiban kita sebagai makhluk Allah, yaitu dengan menjalankan apa
yang sudah ditetapkan seperti; Perintah untuk menjalankan shalat yang sudah
ditentukan dalam Al-Qur’an dan Hadist, Puasa, Zakat dan lain
sebagainya.Perintah atau anjuran–anjuran tersebut diatas adalah merupakan alat
ukur kita seberapa jauh kita dalam membalas rasa syukur, serta kenikmatan dalam
hal kesehatan serta hal yang membuat kita mampu untuk memenuhi keinginan kita
terhadap Allah. Akan tetapi tentu saja semua hal yang berkaitan kenikmatan di
dunia semua itu merupakan hanya kenikmatan sementara yang nantinya akan diambil
oleh Allah SWT.
Apakah
manusia dapat mensyukuri nikmat-nikmat Allah? Cara apa yang paling tepat untuk
mensyukuri nikmat-nikmat Allah Swt? Surat al-Kautsar telah menyediakan solusi
paling tepat untuk manusia dalam hal ini. Nikmat dan berkah Allah Swt yang
tercurahkan dalam hidup, akan membuat manusia yang adil dan berakal untuk
merenungkan bagaimana carnya mensyukuri nikmat-nikmat itu secara
proporsional. Allah Swt dalam surat al-Kautsar berfirman:
«إِنَّا أَعْطَیْناکَ الْکَوْثَرَ، فَصَلِّ
لِرَبِّک…»؛”
Telah
kami berikan kepada kalian kautsar (kebaikan dan berkah yang melimpah) maka
shalatlah untuk Tuhanmu…” 
Tugas
yang dibebankan Allah Swt kepada manusia di hadapan seluruh nikmat-Nya adalah
pensyukuran. Akan tetapi poin penting yang harus diperhatikan adalah antara
nikmat dan syukur itu harus ada keseimbangan. Artinya, jika nikmat semakin
besar maka syukurnya juga harus semakin bertambah. Dalam surat al-Kautsar,
Allah Swt menyinggung nikmat-nikmat-Nya untuk Rasulullah Saw. Kautsar
adalah kata sifat untuk sesuatu yang melimpah dan artinya adalah kebaikan dan
berkah yang melimpah. Nikmat yang melimpah ini tentu memerlukana syukur yang
sangat besar juga. Oleh karena itu, Allah Swt menetapkan dua tugas di pundak
Rasulullah Saw. Yaitu:«
فصل لربک و انحر»”Shalatlah dan berkobanlah untuk
Tuhanmu.” Tugas pertama dalam mensyukuri nikmat Allah Swt adalah
shalat karena shalat adalah ibadan paling komprehensif dan sempurna. Harus
ditekankan pula bahwa shalat itu harus dengan niat pendekatan diri keapda Allah
Swt dan ditunaikan penuh keikhlasan.
Ada
banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk mensyukuri nikmat Allah swt.
Secara garis besar, mensyukuri nikmat ini dapat dilakukan dengan cara-cara
sebagai berikut:
1. Mensyukuri
dengan hati, dengan mengakui, mengimani dan meyakini bahwa segala bentuk
kenikmatan ini datangnya dari Allah swt semata.
2. Mensyukuri
dengan lisan, dengan memperbanyak ucapan alhamdulillah(segala
puji milik Allah) wasysyukru lillah (dan segala bentuk syukur juga
milik Allah).
3. Mensyukuri
dengan perbuatan :
a. Mempergunakan
segala bentuk kenikmatan Allah untuk menunaikan perintah-perintah Allah, baik
perintah wajib, sunnah maupun mubah.
b. Mempergunakan
segala bentuk kenikmatan Allah dengan cara menghindari, menjauhi dan
meninggalkan segala bentuk larangan Allah, baik larangan yang haram maupun yang
makruh.
وحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ
حَرْبٍ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، ح وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا أَبُو
مُعَاوِيَةَ، ح وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ – وَاللَّفْظُ لَهُ
– حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، وَوَكِيعٌ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي
صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا
إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ
عَلَيْكُمْ[15]
b.Terjemah
Hadits
Rasulullah
saw. bersabda lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari pada kamu dan
janganlah kamu melihat orang yang di atasmu. Maka hal itu lebih baik untuk
tidak meremehkan nikmat Allah atasmu. (Muutafaq ‘Alaih)
c.Penjelasan Hadits
Dalam
hadits di atas, nabi menyuruh kaum muslimin agar memandang orang memandang
orang yang berada di bawah mereka, baik mengenai bentuk dan rupa tubuhnya,
kesehatan dan kesejahteraannya, harta dan kekayaannya maupun yang
lain-lainnya. Dengan cara demikian, mereka akan merasa beruntung dan lebih
baik keadaan mereka dibandingkan dengan yang dibawah standar nasib mereka.
Sebaliknya nabi saw. melarang kaum muslimin memandang orang yang di atas mereka
sebab dapat menimbulkan rasa kecil hati dan rendah diri dan bahkan bukan
mustahil dapat menimbulkan rasa kecewa, menyesal diri dan mungkin timbul
persangkaan yang buruk kepada Allah swt. bahwa Dia tidak memperhatikan keadaan
dirinya atau pilih kasih dalam pemberian nikmat. Kaum muslimin dibenarkan
melihat orang yang lebih tinggi derajatnya, khusus dalam masalah ketaatan
kenjalankan agama (dalam hal kebaikan yang bernilai agama) atau dalam menuntut
ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan yang bernilai agama.Wallahu’alam
bish showab. 


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *