IslamicTunesNews | TAHNIA DENI ADEN MENDAPAT PENGHARGAAN NASHEED AWARD HONGKONG



NASHEED AWARD
Thanks Allah SWT for his mercyfull….
Thanks To Hongkong Nepalis Integrated Limited…
It’s special award for me, i’m proud as
Indonesian…Nasheed Goes International….Bismillah….
(Yau Ma Tei, Sept 4, 2016)

Deni Aden bintang nasheed
international

Nama
Deni Aden, penyanyi religi “Lautan Kasih” yang berjenggot tipis ini, sudah
tidak asing lagi di dunia Nasyid Indonesia, Apalagi kang Deni ini sudah melalang
buana sampai ke luar negeri, seperti Hongkong, Malaysia,Singapore dan lainya.
Sebelumnya tak terbayang di benaknya untuk menjadi seorang munsyid. Ia mengaku
pelan-pelan sedang belajar mencari jati dirinya sebagai muslim dengan
bernasyid.
“Saya ingin keberadaan nasyid sebagai sarana syi’ar Islam bisa
sejajar dengan trend musik lainnya yang meramaikan blantika musik tanah air,”
katanya.
Pria kelahiran Bandung Jawa
Barat yang sekarang menetap di Yogyakarta ini, banyak mengambil inspirasi
langgam dari lagu-lagu reliji yang kerap didengar sejak masih kanak-kanak saat
tinggal bersama orang tuanya yang juga ustadz dan ibundanya yang suka
bersenandung “qasidahan” di daerah perkebunan teh di selatan Bandung.
Masa SMP ia sempat menjadi
santri di Pondok Pesantren Wanasari Panyocokan Ciwidey dan Pondok Pesantren
Darul Falah Cihampelas Cililin Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Saat masa SMP
tercatat sebagai siswa SMPN 1 Ciwidey Bandung dan sempat menjadi ketua OSIS
tahun 1993-1994.
Tahun 1998 lulus dari STMN
Kimia Bandung, pada masa ini sempat menjadi penulis, penyiar radio, penyanyi
kafe, vokalis grup band, dan terakhir menjadi pemandu wisata yang
mengantarkannya sampai di Yogyakarta.
Di masa-masa menjadi pemandu
wisata itulah, banyak mendapat tebaran hikmah dan pengalaman spiritual yang
membawanya kepada keputusan untuk mendalami musik religi.
Tahun 1999 Deni Aden hijrah ke
Yogyakarta. Ia kuliah di FKIP Jurusan Bahasa Inggris Universitas Sarjanawiyata
Tamansiswa Yogyakarta. Di kota pelajar inilah secara tidak sengaja bertemu
dengan Gus Muhammad Basis, salah seorang ulama dan budayawan Yogyakarta yang
mendukungnya untuk serius di jalur seni religi.
Di tahun itu pula mulai atas
inisiatif dan support Gus Muhammad Basis, dibentuk grup nasyid beraliran
akustik dengan beberapa teman kuliah dari Riau, Gorontalo, Palembang, dan
Lombok. Grup yang dibentuk bernama Eling Karepe (sekarang Sapu Jagad).
“Eling karepe berasal dari
bahasa Jawa, Eling artinya ingat, Karepe artinya maunya, maunya ingat, ke
barat, ke timur, ke utara, ke selatan, ingat maunya kepada Allah. Begitu
filosofis yang diambil oleh Gus Muhammad Basis yang memberi nama Eling karepe,”
jelas Aden.

Berawal dari ‘Eling Karepe’
Di masa awal berdiri,
keberadaan Eling Karepe banyak diapresiasi masyarakat Yogyakarta, walau semua
personil bersal dari luar Yogyakarta. Berbagai event perlombaan musik reliji di
Yogyakarta dan Jawa Tengah banyak diikuti Eling Karepe dan tak jarang menjadi
pemenang dalam event tersebut.
Sejak kemunculannya, Eling
Karepe, grup yang mengambil genre akustik ini, banyak mendapat apresiasi dan
diundang untuk mengisi berbagai acara, tidak hanya di Yogyakarta namun juga
sampai di luar Jawa seperti Madura, Jambi, Riau, dan lainnya. Bahkan, tak
jarang Eling Karepe berkolaborasoi dengan seniman muslim/nasyider lainnya,
seperti Raihan, Snada, Opick Tombo Ati, The Fikr, Tazakka, dan Justice Voice.

Ciri khas sebuah nasyid tak
begitu mudah untuk diciptakan tanpa adanya keseriusan dan skill dari
personilnya. Tak terkecuali dengan Eling Karepe. Grup nasyid kota pelajar ini
berusaha untuk menghasilkan karya-karya lagu nasyid yang easy listening alias
mudah dinikmati. Hal ini pun diterapkan Eling Karepe.
Eling Karepe (EK) lebih banyak
membawakan lagu-lagu bernuansa shalawat yang familiar di masyarakat Jawa.
Karya-karya EK banyak didominasi nuansa etnik. Ragam etnik Melayu, Jawa, Sunda,
Lombok dan Padang Pasiran. Karya-karya EK pun dapat di download sebagai nada
tunggu Handphone.

Aktif Membuat Lagu Religi
Bagi Deni Aden, nasyid adalah
satu aliran berkreasi yang menyuguhkan karya bernuansa relijus. Di Indonesia
perkembangan nasyid cukup pesat, kalau dulu hanya disuguhkan eksklusif dalam
acara-acara religi tertentu, kini seiring perkembangan, nasyid sudah sangat
familiar dengan masyarakat. Tak sedikit masyarakat yang merespon bagus akan
keberadaan seni nasyid yang pada perkembanganya mengalami berbagai ekplorasi
dengan karakter dan ciri tersendiri.
Tahun 2003 Deni Aden mengeluarkan
album perdana bertitel Anak Adam. Di album inilah laguDoamu Ibu dan Mulo Elingo
sempat menjadi hits dan banyak di-request di radio-radio, tidak hanya di
Yogyakarta, namun juga di luar Yogyakarta.
Beberapa lagu dalam album Eling
Karepe, seperti Mulo Elingo dan Ajaran Sunan Drajat, terinspirasi dari syair
klasik peninggalan Walisongo. Hal ini pun kerap diambil sebagai syair oleh
musisi Islam lainnya. Lagu-lagu tersebut bahkan mencapai hits, seperti lagu
Tombo Atiyang popular dibawakan dalam nuansa baru oleh Opick dan Lir-Ilir yang
populer oleh Cak Nun dan Kyai Kanjeng.

Posted

in

, ,

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *