Sabyan Gambus dan Fenomena Covering Lagu


Perkembangan teknologi telekomunikasi saat ini membuat setiap orang dapat mempublikasikan karakternya secara luas, untuk dikenal sebagai figur atau ketokohan sesuai dengan yang diinginkannya.

Dunia musik juga ikut terdeformasi oleh situasi ini, yang sejatinya dapat memacu inovasi dan kreativitas dalam berkarya. Karena pegiat seni butuh karyanya didengar oleh khalayak ramai, dengan menuangkan ekspresi bermuatan pesan dalam agitasi untuk peradaban agar lebih baik.

Akan tetapi, fenomena yang terjadi cenderung di luar ekspektasi, para pegiat seni musik malah cenderung enggan untuk melahirkan karya sendiri. Budaya covering lagu makin merajalela.

Masyarakat pecinta musik religi pasti tahu dengan grup musik Sabyan Gambus yang melejit sejak tahun 2018 di blantika musik Indonesia dan juga berhasil meraih penghargaan AMI Awards 2018 untuk kategori Karya Produksi Lagu Berlirik Spiritual Islami Terbaik. Grup musik gambus ini popular dengan mengarap ulang lagu-lagu yang pernah popular di wilayah Timur Tengah dan lainnya. Keunikan aransemen musiknya yang menjual, serta vokal merdu dari vokalisnya yang cantik dalam sekejap mampu memikat hati penikmat musik.

Ironinya, Sabyan Gambus sulit membumikan lagu-lagu karyanya sendiri. Kondisi seperti ini juga dialami oleh para grup musik atau penyanyi covering.

Sabyan Gambus seperti kesulitan untuk melahirkan karakter musik di karya lagu sendiri. Lagu-lagu yang pernah dicover seperti menghantui dan sulit melepaskan diri. Pengulangan dan karya monoton akan jadi ancaman sendiri untuk eksistensinya.

Rilisnya lagu cover terbaru Sabyan Gambus yang berjudul Ya Romdhon pada hari Selasa 30 April 2019 yang dispesialkan untuk memaknai bulan Ramadan 1440 H semakin menguatkan argumentasi. Satu persatu para penggemarnya mulai melihatkan kejenuhan pada garapan musik yang kurang berkembang.

Tidaklah haram untuk memulai kegiatan bermusik selama menghargai karya intelektualitas si pemilik karya. Dan karya covering sebaiknya hanya untuk mendongkrak popularitas saat awal berproses. Setelah dilirik penikmat musik secara meluas, bukankah ruang yang indah untuk fokus melahirkan karya sendiri. Karena seniman sejati itu ingin berdiri di atas karya inovatif dan kreatif.

Jika terlena pada agitasi komersialitas dan keuntungan material, kelak seniman itu hanya ada di masanya saja, tapi perlahan akan dilupakan dan mustahil untuk melegenda. Wallahualam.

(Ditulis oleh Muhammad Fadhli – Reporter IslamicTunes News)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *